http://ramayanijambi.blogspot.com

Jumat, 28 November 2008

Puisi – Puisi Ramayani Tahun 2008

Perbincangan Jalan Pulang


aku membelah malam kelam
pada perbincangan dan jabat jiwa yang hangat
kau hantarkan aku pada potret kelak
yang kan memebuat puisiku semakin hangat dan menyengat
ceritakan perjalanan
sambil merekam detak gelisah jantung bumi


malam semakin gelap
bias-bias pepohonan dalam gelap malam
berbaris menjaga lengang di balik jendela
kata-kata terus kau urai
meregut mimpi-mimpi yang hampir lupa
sebelum larut pada waktunya


jalanan ini begitu melelahkan
tetapi kau masih sedia mengerakkan lamunanku
waktu masih milik kita
menjemput potret kelak yang kau janjikan
mendenyutkan nadi yang hampir melemah


perbincangan semakin berkelebat
membabat malam yang mengalir di atas roda
menyebrangi embun yang begitu deras ke bumi
sampai pada tempatku terlelap


Padang, 2008



Uraian Kisah Kelam


malam larut dalam raut sepi wajah jalanan
tak kutemukan kepingan wajahmu yang dulu kujumpai
saat kau merajang wajahku dalam geliat yang kau tutupi
dalam tenang danaumu


aku menimbang detak-detak kasmaran
yang mengupas kharismaku
kau berkelebat dalam sapa
memberi jejak dalam pengalaman jiwa
yang melalaikan nyawa


kini bintik-bintik kelam menusuk rongga tubuhku
menutupi tirai mata pada genangan hujan
kau tak mengenangku lagi dalam sebentuk keutuhan
yang kau ucap dari hatimu


dan kini kau berhati-hati meniti kematianku
kau metik bunga di hatiku
dan menancapkannya di lekuk tubuhku

dan menjadi badai di hatimu


Padang, 2008


Kota Silikon


mereka menemukan kota kita
teronggok indah dandanan pencipta
kini semakin cantik
oleh kekokohan gedung-gedung kaca

wangi semen dan knalpot semakin berbisa
karna pohon tak lagi punya akar untuk menginap

anak anak sibuk berfantasi pada playstation
yang dipetakan oleh jepang

berterima-kasihlah padanya
karena menyadarkan ibu pada kue padamaran
selalu setia pada pameran budaya
dan mengajak kita melihat sejarah tempe
diselipkan di kimononya
ketika menjajah negeri ini

kotaku penuh dengan estalase amerika
yang menemani langkah kita pulang
melupakan rumah adat yang tak mampu menjaga zaman

Muara Tebo, 2008


Mengembalikan Hati


ketika burung elang merajang awan senja
menjemput malamku lagi
menjadikan sapa embun yang berdiri
pada huruf-huruf sunyi
dan menyembunyikan semerbak sari kata-kata angin di hatiku
kulukis dingin itu ketika wajah bulan retak
bersama lekuk tubuh malam
yang dijarah jarum jam di dindingmu
menjadi batu
beberapa lembar kabut membungkus rapat
desir-desir suaraku daam lembahmu
dan awanpun bergelimangan di wajahmu
menutup rinduku

Padang, 2008


Mempelajari Rupamu


aku melihat sepotong wajah menyapaku dakam angan
aku melihat matanya menyelinap dalam kepalaku
aku menedengar sebait puisi yang kau musikalisasikan di telingaku
aku membaca kalimat kalimat di wajahmu

dan
aku gambarkan kau dalam rupa yang kupadukan dalam rasa yang panjang

apakah kau hari untukku
atau air mata yang kan menjadi embun dalam kelam
apakah benar terkadang matahari tak setia

Padang, 2008


Lengang Senja


senja yang lengang di keramaian waktu dan rindu
pandanganku tetuju pada indah bulan
tertampung di kolam matamu

aku melihat ada angsa berenang dengan anggun
jenjang lehernya begitu pasti menjawab sunyi
senja semakin lengang
ia pun menepi

kolam di matamu mengering bersama waktu
mengenang mimpi yang terusik riak
senja lengang di keramaian waktu
tetapi seperti tak berpihak
karna awan hitam

Jambi,2008


Kubaca Rindu di Matamu


aku melihat sepotong wajah menyapa dalam angan
aku menjumpai sepasang mata menyelinap dalam kepalaku
aku mendengar berbait-bait puisi yang kau musikalisasikan di telingaku
aku membaca kalimat-kalimat di wajahmu


dan
aku gambarkan kau dalam rupa yang kupadukan dalam rasa yang panjang

Muara Tebo, 2008


Aku Ingin Jadi Pengantinmu


jika sampai waktuku
aku ingin jadi pengantinmu
kau sambut aku dalam paras cahaya yang anggun

aku ingin jadi pengantinmu yang cantik
memakai gaun abadi tanpa janji dunia lagi
yang kan membuatku lelap di taman hatimu nanti
pada bening hati
menjumpaimu dalam sanding yang panjang

cumbulah aku lembut
rayulah aku dalam maha kasihmu
karna nafasku milikmu
abdiku adalah perintah bagimu

kutabung rindu untukmu
pada saat sampai waktuku
sempatkan aku mencukupi malamku yang terbuang
oleh kematian tanpa pujian untukmu
aku ingin mengenalmu, sungguh
membayar sesal yang tak berilmu memujamu
yang pasti hanya namamu yang kutahu

kau yang maha besar
kumasuki pintu hatimu

Muara Tebo, 2008


Danau Kembar

(alahan panjang)


tak habis angan di mataku
untuk terus memandangi keanggunanmu
wajahmu yang begitu indah
sebuah keutuhan kecantikanmu

tak habis kata-kataku memuja kecantikanmu
parasmu begitu berkilau bertaburan
di permukaan riak kecil senyummu
matahari membelai seperti butiran kristal
berkilau dari keanggunan hati penciptamu

bukit-bukit menjulang menjagamu
pohon pinus mengipasi wajahmu
makin sempurna dengan udara yang membuat kau ada

kulepaskan pandanganku untukmu
mengobati lelah yang sering singgah
kau begitu mempesona
lelapkanlah wajahmu dalam paru-paruku
menembus jantung yang semakin lelah
buailah mimpi-mimpi terus hadir di parasmu
sebelum kabut dari perbukitan itu menguasaimu

Alahan Panjang, 2008


Cantik Hatimu


alangkah agung langkahmu menyelusuri hari
hingga langitpun tersenyum menatapmu
dengan aroma bunga
dihiasi oleh warna warni kupu-kupu
berterbangan dalam fikirannmu
dari riak jiwamu yang mempesona

hari selalu setia menjumpaimu
berama binar-binar gairah pesonamu
terus memberi cahaya kehidupan
di bumi
dari rahim sucimu

Muara Tebo, 2008


Tentang Lelaki Itu


aku ingin membakar pikiranku
tentang lelaki yang merampas denyut jantungku
pada serpihan serpihan kisah
dalam asinnya waktu yang menjadi garam

tapi harum ruang hati terus membias
mengalir ke seluruh tubuhku
serta ia menjilati air mataku
yang mengalir di baris almanak bulu mataku

ia memandangku dan terus bekerja dalam nyawaku
tetapi juga melepas huruf-huruf santun dalam tubuhku
aku mencatat kata-kata pada tubuhku kembali
membersihkan waktu
bersama awan yang sering memucat dan hitam
jangan kau sentuh malam pada tubuhku
tetapi lukislah pada sebentuk keutuhan

Muara Tebo, 2008


Keraguan


apakah kau hari untukku
atau hanya air mata yang menjadi embun dalam kelam
dan apakah benar
terkadang matahari tak setia
jarum jam seakan kabur dan fana
menyusup pada kelam

mungkin kita telah kehilangan mimpi
tanpa puisi yang kan kita tabur di tubuh kita

Muara Tebo, 2008